Ditulis pada tanggal 30 April 2013, oleh admin, pada kategori Berita

Universitas Brawijaya (UB) berhasil meloloskan satu dari empat robot yang maju pada Kontes Robot Indonesia 2013 tingkat regional empat. Kompetisi ini diselenggarakan selama dua hari (26-27/4) di Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Robot tersebut bernama Ibrahim yang diperlombakan pada Kontes Robot Seni Indonesia (KRSI). Ibrahim digawangi delapan mahasiswa Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT-UB) dengan bimbingan Goegoes Dwi A.N., ST, MT. Mereka adalah Abu Ismail Pribadi (TE’10), Tanshuda Alfauzi (TE’10), Mu’ammar Faris Labib (TE’10), Bustanul Arifin (TE’11), Bayu Prabarianto (TE’11), Akhmad Tegar F.F (TE’11), Gladi Buana (TE’09) dan Albar Rizka Bahar (TE’09).

Ibrahim merupakan generasi keempat KRSI yang dikeluarkan TE-UB dalam ajang kontes robot. Sejak 2010, berturut-turut telah dikeluarkan tiga generasi sebelumnya yakni El Hawa, D’Furqon dan El Fazza. Untuk mensiasati keterbatasan dana, robot-robot tersebut seringkali menjadi kanibal bagi yang lain. Pada 2013 ini, Ibrahim memenuhi aturan panitia yang mengambil tema “Hanuman Duta”. Dengan Degree of Freedom (DoF) sebanyak 26, ia telah melewati persyaratan dari 21 DoF yang ditetapkan. DoF adalah kemampuan gerak tarian yang ditampilkan melalui motor servo.

Selain motor servo, komponen lain yang terpasang adalah sensor suara dan kamera. Sensor suara ini mengindikasi robot untuk bergerak mengiringi musik yang dimainkan. Sementara kamera dimanfaatkan untuk melintasi arena yang telah ditentukan melalui sensor warna. “Kamera ini merupakan fitur baru milik Ibrahim,” kata Goegoes.

Dengan segala fiturnya, Ibrahim berhasil menduduki posisi kedua setelah Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS). Kedua robot akan maju mewakili regional IV dalam Kontes Robot Seni Indonesia 2013 tingkat nasional yang akan diselenggarakan di Universitas Dian Nuswantoro Semarang pada pertengahan Juni mendatang. Setidaknya 16 tim dari seluruh Indonesia akan berkompetisi dalam ajang tersebut. Selain PENS, kompetitor berat yang dicatat tim Ibrahim adalah UGM, Universitas Negeri Padang, Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Bandung.

Agar unggul pada kompetisi mendatang, tim Ibrahim akan memodifikasi robotnya, diantaranya dengan menambah sensor kesetimbangan. Penambahan sensor ini dimaksudkan agar robot tidak terjatuh saat melakukan gerakan. Selain itu, desain juga diupayakan lebih sederhana, modifikasi perangkat lunak agar robot lebih stabil guna mengapresiasi musik saat dimatikan serta menambah style gerakan hingga 32 DoF.

Pengerjaan robot ini membutuhkan waktu sekitar 3-4 bulan dimulai dari masalah mekanis, elektrik dan perangkat lunak. Dari sisi mekanis utamanya, tim mengakui kelemahan estetika. Pasalnya komponen body diperoleh di pasaran, sementara kompetitor telah banyak yang membuat sendiri melalui mesin CNC molding. “Harga mesin ini sangat mahal, bisa diatas Rp. 500 juta,” kata Goegoes. Bidang ini, tambahnya, lebih banyak dikuasai personel teknik mesin dibanding teknik elektro.

Diakhir wawancara, Goegoes menyatakan kegembiraannya bahwa tim Teknik Elektro UB telah berhasil lolos tingkat regional meski dengan komponen seadanya. “Kami lebih mementingkan proses pembelajaran bagi mahasiswa,” katanya. Robot ini, menurutnya telah menghasilkan puluhan skripsi mahasiswa untuk membahas berbagai permasalahannya. Meski tidak seperti perguruan tinggi lain yang telah memiliki pusat studi robotika, sejauh ini robotika masih sebatas mata kuliah 3 SKS di TE-UB.

sumber